Saturday, January 15, 2005

Laporan Peduli Aceh + Jangan Lupakan Nias

AsSalamu 'alaikum waRahmatuLLahi waBarokaatuh,

BismiLLahirRahmanirRahim,

Bersama ini kami laporkan penerimaan infaq KZIS Perwakilan Belanda untuk Program Peduli Aceh sampai dengan tanggal 15 Januari 2005 sebagai berikut : infaq sejumlah 9391.99 EUR dan 7 (tujuh) ekor kambing untuk qurban 1425H sejumlah 525 EUR.

Penerimaan berjumlah 9391.99 EUR ini, Alhamdulilaah telah kami kirimkan ke Aceh sebesar
(1) 1000 EUR melalui relawan kami Ukh. Ella yang membawanya langsung ke Aceh,
(2) 1000 EUR melalui MER-C,
(3) 5000 EUR melalui para relawan KZIS di SUMATRA UTARA yang telah turun langsung ke lapangan (Laporan dari lapangan dapat dilihat pada bagian bawah email ini).

Sisa dana infaq yang ada yaitu 2391.99 EUR, Insyaallah akan dialokasikan untuk program pembenahan tahap berikutnya. Dalam hal ini, Tim KZIS ISNET telah merencanakan beberapa program jangka panjang untuk ACEH dan tak lupa kamipun mulai memperhatikan para Korban di Pulau Nias antara lain:
(1) Program Beasiswa Dhuafa untuk para pelajar di ACEH
(2) Program Modal Usaha
(3) Program Peduli Nias

Insyaallah ketujuh ekor hewan qurban yang telah dititipkan kepada kami, akan disampaikan kepada mereka yang berhak menerimanya di Aceh. Insyaallah laporan lengkap akan menyusul.

Untuk selanjutnya, progress report program peduli Aceh ini dapat diikuti melalui : http://kzisbelandapeduliaceh.blogspot.com/

Demikian laporan kami, terimakasih atas kepercayaan anda semua kepada KZIS-ISNET BELANDA dan tak lupa kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan kami selama ini.

JazakumuLLahu khairan katsiran,
WasSalaamu 'alaikum waRahmatuLLaahi waBarokaatuh,

a/n KZIS Perwakilan Belanda

http://kzis-nl.blogspot.com


------------------------------------------------------------------------------------------
LAPORAN LAPANGAN 1
-----------------------------------------------------------------------------------------

Assalaa’mualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf baru muncul setelah lama tidak berkomunikasi dengan rekan2 seperjuangan di KZIS. Sehubungan dengan perjalanan saya ke Aceh menyampaikan amanah bantuan makanan dan obat2an dari KZIS ISNET berkaitan dengan bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang menimbulkan kerusakan dan korban yang cukup hebat di beberapa daerah di Aceh dan Sumut, maka berikut saya laporkan secara ringkas perjalanan tersebut :

Saya bersama Tim berangkat dari Medan tanggal 29/12-2004 s/d 3/01-2005. Selain bantuan dari KZIS, YUA juga dititipi bantuan dari beberapa pribadi muslim. Bantuan tersebut berupa makanan (kering dan sembako), obat, pakaian, dan uang.

Rombongan berangkat menggunakan 4 mobil (3 mengangkut barang, dan 1 untuk relawan). Tujuan keberangkatan adalah Aceh Pidie dan Banda Aceh, dengan misi selain menyampaikan bantuan material, juga menyiapkan diri untuk menjadi relawan (saya pribadi juga sekalian berta’ziah, karena dua puluhan sanak keluarga terdekat ikut meninggal dunia, dan sebagian belum ditemukan).

Dalam perjalanan rombongan dua kali mendapat kendala, pertama, ketika akan melanjutkan perjalanan malam hari dari Kuala Simpang menuju Aceh Pidie (29/12), rombongan terpaksa mengurungkan perjalanan dan bermalam di Kuala Simpang karena baru saja terjadi perampokan bantuan kemanusiaan pada sore harinya di daerah Bayeun (info yang didapat, dilakukan oleh GAM) yang daerah itu juga pasti akan kami lewati. Esok harinya (30/12) ketika akan melewati daerah Idi Rayeuk Aceh Timur, kembali kami tertahan oleh kontak senjata di
pinggiran jalan raya antara TNI dan GAM. Selanjutnya perjalanan berjalan lancar, sambil kami melewati puluhan posko pengungsi di sepanjang jalan dan pemandangan kehancuran wilayah dan tempat tinggal yang begitu luar biasa.

Mulai dari Aceh Timur (daerah Peurlak), kita akan menjumpai posko pengungsi. Kemudian makin ke atas, kita akan menjumpai skala kerusakan dan korban yang makin besar, misalnya seperti di daerah Krueng Mane Kecamatan Muara Batu Aceh Utara. Selanjutnya, mulai dari Desa Keude Tanjung Kecamatan Matang Glumpang Dua hingga ± 3 Km ke depan kita akan melewati jalan raya serta beram jalan yang retak-retak, terbelah, dan terangkat disebabkan peristiwa gempa. Tapi insya Allah jalan tersebut tetap dapat kita lewati dengan kendaraan mobil ataupun truk/bus. Sepanjang jalan dari mulai kota Lhok Seumawe hingga kota Sigli, kami juga akrab dengan pemandangan antrian masyarakat membeli BBM. Dalam perjalanan memasuki daerah Pidie, kami juga baru mengetahui bahwa ada daerah yang selama ini tidak terlalu diekspos media, yang ternyata daerah tersebut juga mengalami kerusakan dan korban yang cukup dahsyat, yaitu daerah Tringgadeng (termasuk Desa Reudup Kecamatan Panteraja). Ratusan korban tewas, dan ribuan rumah hancur di daerah ini.

Akhirnya Kamis malam (30/12) kami tiba di posko yang sudah kami rencanakan dari Medan, yaitu di Desa Tiba Masjid Beureunuen (tepatnya di rumah nenek saya). Di disilah kami beristirahat sejenak, guna mendapatkan info yang lebih lengkap dan akurat tentang kondisi sementara, sambil membongkar semua muatan. Rencananya kami akan bergerak malam itu juga ke posko-posko pengungsi, tapi dikarenakan penerangan listrik yang sebagian rusak,
disamping faktor keamanan (Pidie adalah daerah basis utama GAM), maka niat tersebut tidak jadi dilaksanakan. Sehingga bantuan pun baru dapat kami salurkan mulai Jum’at (31/12) s/d Sabtu (01/01), di daerah antara lain :
(1) Kecamatan Simpang Tiga Pidie (ratusan rumah hancur/hilang ditambah ratusan
korban manusia, serta 5000-an pengungsi di 13 titik),
(2) Kecamatan Batee (ribuan rumah hancur/hilang, hampir 500 orang tewas, pengungsi 3000-an di 5 titik), daerah Tringgadeng (ratusan rumah hancur/hilang ditambah ratusan korban manusia, serta ribuan pengungsi), Leungphutu (ratusan rumah hancur/hilang, korban manusia tidak didapat data, serta ratusan pengungsi).

Selanjutnya setelah menyampaikan amanah bantuan dari KZIS dan donatur-donatur, maka saya dan rombongan berangkat menuju Banda Aceh (Sabtu, 01/01).

Sepanjang perjalanan hingga ke Banda Aceh, kami terpaksa membuang waktu yang lumayan, karena ban mobil tiga kali bocor. Hampir saja kami tidak jadi memasuki pusat Kota Banda, dikarenakan sulitnya mencari tempat tempel ban.

Akhirnya Allah memberi kemudahan, ketika kami menemukan tempat tempel ban di
daerah yang termasuk sunyi dan menurut prakiraan kami tidak akan mungkin ada
tukang tempel ban … Subhanallah.

Perjalanan tim berlanjut, dan kami langsung menuju RS Kesdam, satu-satunya rumah sakit yang masih berfungsi di Banda. Di area RS ini, aroma bau busuk dan anyir darah masih cukup menusuk, walaupun 2 hari sebelumnya baru saja diadakan penyemprotan. Di sini banyak pasien yang tidak terurus, baik karena keluarga yang sudah tiada, maupun kekurangan tim medis. Saya melihat, tim dokter yang turun termasuk dari Medan, Sumsel, UI, UNAIR, dll. Juga baru tiba tim medis dari Australia, yang tidak lupa memboyong belasan kameramen
guna meliput sekaligus mengekspos kerja mereka ! Dari RS Kesdam, kami coba berkeliling kota Banda, dan … Allahu Akbar …. Sungguh luar biasa kehancuran yang kami lihat. Saya pribadi merasakan nuansa yang berbeda, antara menyaksikan di media dengan menyaksikan langsung di lapangan. Ribuan mayat masih bergelimpangan dengan segala kondisi. Kondisi benar-benar kacau dan terlihat sangat lemah koordinasi antar linstansi resmi maupun lembaga-lembaga swasta yang turut membantu. Saya sangat memahami kondisi ini, karena saya sendiri kebingungan, memulai kerjanya dari mana ?

Akhirnya dengan perasaan yang campur aduk, kami memutuskan untuk kembali
malam itu juga ke posko rombongan di Beureunuen, sambil singgah di posko pengungsi daerah Seulimum Aceh Besar, guna menyampaikan sisa bantuan.Esok harinya (Minggu, 02/01) kami berangkat pulang menuju Medan dengan setumpuk rencana-rencana kerja lanjutan, dan Alhamdulillah tiba dengan selamat pada waktu Senin dinihari.

Demikian laporan ringkas Tim YUA (YAYASAN ULIL ALBAB) guna menyampaikan amanah bantuan masyrakat Muslim (KZIS ISNET dan beberapa donatur pribadi). Semoga bermanfaat dan berlanjut, karena masih sangat besar dan berat penderitaan yang sedang ditanggungkan saudara-saudara kita di Aceh dan sebagian Sumut.

NB : Untuk laporan lengkap (termasuk foto, CD, dan keuangan akan saya
kirimkan ke KZIS)
Wassalam
Munawar (Relawan KZIS ISNET Sumut)

-------------------------------------------------------------------------------------------------
LAPORAN LAPANGAN 2
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalaamu'alaikum
Alhamdulillah uang bantuan tahap II dari KZIS sebesar Rp 30.544.000,- sudah
masuk rekening YUA. Sementara untuk penyaluran, saya bersama teman2 masih
sedang mengkaji yang terbaik. Karena saat ini, di Medan saja sudah ada dua
puluhan titik/posko pengungsian yang menampung belasan ribu pengungsi. Jadi
untuk penyaluran saya akan konfirmasi nantinya kepada rekan2 di KZIS
Wassalam
Munawar


---------------------------------------------------------------------------------
Program Relawan Pendamping Psikologis
Yayasan Ulil Albab (YUA)
------------------------------------------------------------------------------

Assalaamu’alaikum

Mulai 12 Januari 2005, YUA telah merekrut belasan (insya Allah terus
bertambah) relawan pendamping psikologis, yang terdiri dari mahasiswa/i
psikologi USU dan UMA, serta unsur masyarakat lain dari kalangan profesi
yang berbeda. Para relawan ini akan dikirim/disebar di titik-titik
pengungsian, baik di RS maupun di posko-posko.

Tugas relawan, adalah menghibur dan menggembirakan pengungsi, baik dari kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Relawan dapat juga berfungsi sebagai teman
bercerita, guru anak-anak, maupun conselor. Memang jumlah relawan yang ada
belumlah dapat mengcover semua titik dimana pengungsi berada (RS dan posko).
Termasuk dalam hal ini untuk masuk atau menembus ke RS yang dikelola pihak
Kristen (Gleneagles, Methodist, Santa Elisabeth, Martha Friska). Untuk RS
Brimob Poldasu, memang RS ini untuk aparat dan sipil, tetapi info dari
jaringan kita yang sudah terjun ke lapangan, bahwa setiap hari rutin para
missionaris berkunjung kepada pengungsi-pengungsi yang jadi pasien. Khusus
RS Martha Friska, mungkin karena mereka mendapat pengalaman buruk di Aceh
(hari 1 gempa dan tsunami mereka sudah mengirim banyak ambulan dan paramedis
ke Aceh, tetapi karena menggunakan simbol agama kristen yang cukup menyolok,
rakyat dan pemda Aceh langsung mengusir mereka dari bumi Aceh hari itu
juga), maka ketika YUA mengirim relawan ke RS tersebut, pihak RS langsung
menolak dengan keras akhwat relawan tersebut.

Setiap relawan, selain dibekali ilmu dasar menghadapi orang-orang yang
bermasalah dengan mental ataupun trauma, juga dibekali makanan kecil
(snack), bon-bon, alat tulis bagi anak-anak, buku tulis dan gambar, kertas
origami, dan bahan-bahan pendukung lainnya. Relawan juga dibekali ongkos
transportasi, dan biaya makan. Untuk sementara ini, semua biaya kegiatan
ditanggung YUA, yang berasal dari sumbangan dermawan-dermawan.

Wassalam
Munawar

--------------------------------------------------------------------
Jangan Lupakan Nias !
--------------------------------------------------------------------

Assalaamu’alaikum

Banyak kita mendapatkan info yang tidak lengkap tentang bencana tsunami di
Nias Sumatera Utara. Memang, dari segi jumlah korban jiwa, terbanyak berasal
dari kalangan non muslim. Tetapi dari segi kerusakan atau kehancuran
material, ternyata ummat Islam lah yang paling menderita.

Daerah Lahewa, Muawe, Afuhu, Sirombu (85% muslim), dan Mandrehe (35% muslim) adalah daerah dengan korban dan kerugian material terbesar. Korban jiwa dari kalangan
muslim yang diketahui hanya 1 orang. Total muslim di wilayah-wilayah tersebut ± 2000 jiwa. Permasalahan terbesar sekarang, relawan muslim sangat minim, ditambah dengan bantuan yang didapatkan juga minim. Jadi yang paling banyak menyantuni pengungsi muslim adalah dari kalangan gereja atau pastur-pastur.

Termasuk dalam hal ini mereka menyediakan perahu gratis bagi nelayan-nelayan, membayarkan uang sewa rumah/tempat tinggal, dan fasilitas lainnya. Ujungnya tentu bisa kita tebak bukan ? Ada cerita menarik ketika tsunami melanda Nias. Pada hari tersebut, pihak Rotary Club Medan dengan sigap segera menyiapkan bantuan dan tim relawan menuju Nias. Info keberangkatan ini kemudian diketahui oleh dr. Helmi Harefa (HP. 08153089295) yaitu seorang muslim putra daerah Nias yang sekarang bertugas sebagai dokter di RS Gleneagles Medan. Kemudian beliau menawarkan diri untuk ikut,
disamping karena keahlian medis yang dimilikinya, juga beliau sangat mengenal daerah Nias. Ternyata tawaran dr. Helmi ditolak mentah-mentah oleh pihak Rotary Club.

Silakan rekan-rekan mencari penyebab penolakan ini !

Khusus untuk qurban, saya mengusulkan setidaknya ada 10 ekor kambing bisa
dialokasikan ke Nias. Harga nominal ditambah ongkos, ± Rp 750 ribu/ekor.
Kalau untuk lembu, per ekor 6 s/d 7 juta.ontak person kita Nias, saat ini adalah Sdr. Ramli Harefa (063921985).

Wassalam
Munawar

0 Comments:

Post a Comment

<< Home